Nyata Nyata Fakta – Ketegangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali mengguncang pasar global. Salah satu dampak paling nyata dari eskalasi perang dagang ini adalah melemahnya nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Hingga akhir Maret 2025, rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.640 per dolar AS posisi terendah yang mengingatkan pada masa-masa kelam krisis keuangan Asia di akhir 1990-an.
Meskipun berbagai langkah intervensi telah diambil oleh Bank Indonesia (BI), termasuk di pasar valuta asing dan pasar surat utang, tekanan terhadap rupiah tetap tinggi. Sejumlah analis memperkirakan bahwa nilai tukar ini akan sulit kembali ke kisaran Rp15.000 dalam waktu dekat selama ketidakpastian global masih membayangi.
Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok, telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Namun pada 2025, ketegangan ini mencapai babak baru. Pemerintah AS memberlakukan tambahan tarif impor terhadap produk Tiongkok, sementara Tiongkok membalas dengan kebijakan serupa. Situasi diperparah dengan perluasan kebijakan perdagangan agresif AS ke negara lain seperti Kanada, Meksiko, dan bahkan Eropa.
Kondisi ini menimbulkan keresahan di pasar keuangan global, menyebabkan investor mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat drastis, dan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan berat.
“Baca Juga: BRICS Bersiap Menyaingi Dominasi Stablecoin Dolar dengan Emas Digital”
Seperti banyak negara berkembang lainnya, Indonesia masih sangat bergantung pada arus modal asing, terutama di sektor keuangan dan obligasi. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang dan mengalihkannya ke aset-aset yang lebih stabil.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, kembalinya rupiah ke angka Rp15.000 per dolar AS sangat kecil kemungkinannya jika konflik perdagangan ini terus berlangsung. Bahkan, ia memperingatkan bahwa tanpa langkah stabilisasi yang kuat dari Bank Indonesia, rupiah berisiko menyentuh level Rp16.800 dalam waktu dekat.
Bank Indonesia tidak tinggal diam. Sejumlah intervensi dilakukan untuk menjaga kestabilan nilai tukar dan mencegah gejolak yang lebih dalam di pasar keuangan. BI aktif di pasar spot, pasar obligasi negara, dan instrumen non-deliverable forwards (NDF) domestik.
Langkah ini penting untuk memberikan sinyal kuat kepada pelaku pasar bahwa otoritas moneter siap menjaga stabilitas rupiah. Terlebih lagi, periode menjelang libur panjang seperti Idul Fitri merupakan waktu rawan karena permintaan terhadap mata uang asing cenderung meningkat untuk kebutuhan impor dan perjalanan internasional.
“Baca Juga: IHSG Terkoreksi Tajam: Saatnya Tarik Diri atau Tetap Tenang Wait and See?”
Di tengah tekanan eksternal, Indonesia juga menghadapi tantangan dari sisi domestik. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal menjadi faktor tambahan yang mempersulit pemulihan rupiah. Ketergantungan terhadap impor bahan baku juga memperbesar kebutuhan akan dolar AS, semakin menekan neraca perdagangan nasional.
Dampak dari pelemahan rupiah juga terasa langsung oleh masyarakat, terutama melalui kenaikan harga barang impor dan inflasi. Jika tidak dikelola dengan baik, situasi ini dapat berdampak pada daya beli dan kestabilan ekonomi secara umum.
Kondisi saat ini menjadi pengingat penting bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya bahwa stabilitas ekonomi tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. Ketergantungan terhadap arus modal asing dan fluktuasi mata uang membuat ekonomi nasional rentan terhadap gejolak geopolitik dan kebijakan perdagangan negara-negara besar.
Pemerintah dan pelaku industri diharapkan mampu mengantisipasi risiko global ini dengan memperkuat sektor domestik. Meningkatkan cadangan devisa, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. Dalam jangka panjang, penguatan daya saing industri dalam negeri dan diversifikasi pasar ekspor menjadi kunci untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional serta nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.