Nyata Nyata Fakta – Myanmar diguncang oleh gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7, yang kemudian menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah Asia Tenggara. Pusat gempa berada di sekitar jalur Patahan Sagaing, yang memisahkan Lempeng India dan Lempeng Sunda. Guncangan besar tersebut terasa hingga negara tetangga seperti Thailand, menyebabkan kerusakan luas, kepanikan massal, dan ribuan korban jiwa.
Kota Mandalay menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Gempa merobohkan ratusan bangunan, merusak infrastruktur penting seperti jalan raya dan bandara, serta memutus jalur komunikasi. Suhu udara yang mencapai 41 derajat Celsius memperparah kondisi, mempersulit upaya penyelamatan dan pencarian korban.
Bau menyengat dari reruntuhan menjadi penanda duka, menandakan banyaknya korban jiwa yang belum ditemukan. Guncangan susulan bermagnitudo 5,1 yang terjadi pada Minggu sore, memperparah ketegangan dan ketakutan warga yang masih berada di pengungsian atau berusaha mencari anggota keluarga yang hilang.
“Baca Juga: Jumlah Korban Gempa Myanmar Lampaui 1.600 Jiwa”
Hingga Minggu malam, lebih dari 1.700 orang dilaporkan meninggal dunia di Myanmar dan Thailand. Sekitar 3.400 orang terluka, dan lebih dari 139 orang masih dinyatakan hilang. Di Bangkok dan sekitarnya, korban jiwa tercatat mencapai 18 orang, sebagian besar akibat bangunan runtuh atau terjebak dalam gedung tinggi.
Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa banyak warga terpaksa menggali reruntuhan menggunakan tangan kosong atau peralatan seadanya karena lambatnya bantuan mencapai lokasi terdampak. Rumah sakit setempat penuh sesak, sementara listrik dan pasokan air terganggu.
Di tengah situasi krisis, komunitas internasional mulai mengirimkan bantuan. India mengerahkan dua pesawat militer C-17 yang membawa rumah sakit lapangan dan lebih dari 120 personel medis ke Naypyidaw, sebelum melanjutkan ke Mandalay. Bantuan ini bertujuan mendirikan pusat perawatan darurat untuk menangani korban luka parah.
Sementara itu, China mengirim konvoi 17 truk yang berisi pasokan medis, makanan, air bersih, dan tenda darurat. Negara-negara tetangga seperti Thailand dan Bangladesh juga mengirimkan bantuan logistik dan tim penyelamat. Organisasi seperti Palang Merah dan lembaga kemanusiaan internasional telah hadir di lokasi untuk membantu evakuasi dan pemulihan.
Gempa kali ini berasal dari Patahan Sagaing, jalur patahan aktif sepanjang lebih dari 1.200 km yang membentang dari utara ke selatan Myanmar. Menurut ahli geologi, segmen sepanjang 200 kilometer dari patahan ini patah, menghasilkan guncangan yang sangat kuat.
Meski dikenal oleh komunitas ilmiah, patahan ini sering kali luput dari perhatian masyarakat umum. Tragedi ini menunjukkan betapa rentannya suatu wilayah terhadap kekuatan alam, namun juga menyuarakan kekuatan empati manusia. Di tengah kehancuran, kita melihat semangat gotong royong, kemanusiaan, dan solidaritas yang mempertemukan berbagai bangsa dalam satu tujuan: menyelamatkan nyawa dan membangun kembali harapan.