Nyata Nyata Fakta – Memasuki kuartal kedua tahun 2025, pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan sinyal positif meskipun masih diliputi ketidakpastian global, terutama terkait kebijakan tarif perdagangan dari Amerika Serikat. Di tengah ketegangan ini, bursa regional seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Hong Kong berhasil mencatat penguatan yang menunjukkan bahwa pasar tetap tanggap, namun juga memiliki semangat resilien menghadapi tantangan eksternal.
Jepang menjadi salah satu pemimpin dalam penguatan bursa Asia pada awal April. Nikkei 225, indeks utama di Tokyo, naik 0,67% menandakan kembalinya kepercayaan investor setelah sempat mengalami tekanan di bulan sebelumnya. Kenaikan Topix sebesar 0,95% menunjukkan bahwa penguatan tidak hanya terjadi pada perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga meluas ke saham-saham sektor yang lebih luas, termasuk manufaktur dan layanan keuangan.
Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 1,03% sementara Kosdaq yang lebih banyak berisi saham teknologi dan perusahaan kecil menengah, meningkat 1,12%. Dorongan utama berasal dari ekspektasi terhadap pertumbuhan ekspor teknologi serta stabilitas nilai tukar won yang memberikan angin segar bagi perusahaan eksportir.
Kedua negara ini sama-sama mendapat sentimen positif dari rebound saham Wall Street, yang memberikan sinyal bahwa tekanan eksternal belum berdampak langsung pada fondasi ekonomi domestik mereka.
“Baca Juga: Lesunya Daya Beli Menjelang Lebaran 2025, Apa Penyebabnya?”
Di Australia, perhatian investor tertuju pada langkah berikutnya dari Reserve Bank of Australia (RBA). Indeks S&P/ASX 200 naik 0,67%, dipicu oleh ekspektasi bahwa RBA akan mempertahankan suku bunga di level 4,1% dalam pertemuan kebijakan terbarunya.
Kebijakan ini diambil menjelang pemilu nasional yang akan diselenggarakan pada 3 Mei 2025. Dalam situasi politik yang sensitif, RBA diperkirakan akan memilih pendekatan hati-hati guna menjaga kestabilan pasar. Inflasi yang masih terkendali dan pertumbuhan lapangan kerja menjadi dua indikator utama yang mendasari sikap wait-and-see bank sentral.
Investor menganggap langkah ini sebagai sinyal stabilitas, yang menjadi dasar penguatan sektor properti, konsumer, dan keuangan di bursa Australia.
Hong Kong, sebagai pusat keuangan internasional, menunjukkan sinyal pemulihan dengan kontrak berjangka Hang Seng tercatat di angka 23.237. Harga ini lebih tinggi dari penutupan sebelumnya di 23.119,58. Ini menandakan bahwa pelaku pasar memperkirakan pembukaan yang positif, seiring membaiknya sentimen global.
Katalis utama datang dari harapan stimulus ekonomi lanjutan dari pemerintah Tiongkok yang dapat memacu permintaan domestik dan ekspor. Selain itu, sektor teknologi dan keuangan di Hong Kong mendapatkan dorongan dari kenaikan saham-saham sejenis di bursa AS, khususnya Nasdaq.
Kendati begitu, pasar Hong Kong tetap sensitif terhadap geopolitik dan fluktuasi mata uang yuan, yang turut menjadi perhatian dalam konteks tarif AS.
“Baca Juga: Tragedi Gempa Dahsyat di Myanmar: Duka Mendalam dan Upaya Bantuan Internasional”
Sementara bursa Asia menguat, Indeks Volatilitas CBOE (VIX) memberikan peringatan penting. Dikenal sebagai “indeks ketakutan,” VIX melonjak untuk keempat kalinya berturut-turut dan sempat menyentuh level 24,80 titik tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Peningkatan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan perdagangan AS. Ketegangan geopolitik dan spekulasi akan diberlakukannya tarif impor baru oleh Presiden Donald Trump membuat investor global bersikap lebih defensif. Terutama di sektor-sektor yang rentan terhadap gangguan rantai pasok internasional.
Meskipun indeks saham terlihat menguat, lonjakan VIX menjadi sinyal bahwa pasar belum sepenuhnya tenang. Risiko tersembunyi tetap membayangi.
Pernyataan dari Gedung Putih bahwa kebijakan tarif baru sedang dipertimbangkan telah memicu ketegangan di berbagai negara mitra dagang AS. Potensi tarif tambahan terhadap barang-barang dari Asia, Eropa, dan Amerika Latin dapat menyebabkan eskalasi perang dagang. Seperti yang terjadi pada beberapa tahun sebelumnya.
Namun, beberapa analis melihat adanya peluang tersembunyi di balik ketidakpastian ini. Negara-negara Asia dengan basis manufaktur kuat dan biaya produksi kompetitif seperti Vietnam, Indonesia, dan bahkan India bisa menjadi tujuan relokasi industri, membuka peluang investasi baru.
Pasar saham Asia, terutama di sektor logistik, real estate industri, dan teknologi komponen, bisa mendapatkan limpahan keuntungan dari pergeseran rantai pasok global.
Berdasarkan perkembangan terbaru, bursa saham Asia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah ketidakpastian eksternal. Investor memilih untuk tetap optimis, tetapi dengan langkah hati-hati. Perhatian tetap tertuju pada kebijakan AS, keputusan bank sentral, dan data ekonomi regional yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang.
Strategi investasi ke depan tampaknya akan fokus pada sektor-sektor defensif, perusahaan berbasis ekspor non-AS. Serta saham-saham dengan neraca keuangan yang solid. Dengan kondisi global yang terus berubah, pasar saham Asia menunjukkan satu hal penting. Resiliensi dan fleksibilitas adalah kunci bertahan di tengah ketidakpastian.