Nyata Nyata Fakta – Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa jumlah peredaran uang dalam arti luas (M2) di Indonesia mencapai Rp9.239,9 triliun pada Februari 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 5,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2025 yang tercatat sebesar 5,5%.
Peningkatan jumlah uang beredar ini menjadi indikator penting bagi kondisi likuiditas perekonomian nasional. Dengan adanya kenaikan ini, berbagai sektor diharapkan dapat merasakan dampak positif, terutama dalam hal investasi dan konsumsi masyarakat.
Komponen Pertumbuhan Uang Beredar
Uang beredar dalam arti luas (M2) terdiri dari beberapa komponen utama, di antaranya adalah:
- Uang Beredar Sempit (M1)
Komponen M1, yang mencakup uang kartal dan giro, mengalami pertumbuhan sebesar 7,4% secara tahunan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa transaksi ekonomi di masyarakat terus berjalan dengan baik, didorong oleh konsumsi dan aktivitas bisnis yang meningkat. - Uang Kuasi
Sementara itu, uang kuasi, yang mencakup deposito berjangka, tabungan, dan giro valuta asing, tercatat tumbuh sebesar 1,8% yoy. Pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan M1 ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi masyarakat terhadap penggunaan dana likuid untuk transaksi. Jika dibandingkan dengan menyimpannya dalam bentuk deposito atau tabungan berjangka. - Uang Primer (M0)
Uang primer atau uang dasar, yang mencerminkan cadangan uang di bank sentral, tercatat sebesar Rp1.882,7 triliun dengan pertumbuhan 13% yoy. Angka ini relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 13,2%.
“Baca Juga: Komputasi Kuantum di Cloud: Masa Depan Pemrosesan Data”
Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Uang Beredar
Menurut Bank Indonesia, terdapat beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan uang beredar di Indonesia:
- Penyaluran Kredit yang Meningkat
Bank-bank di Indonesia terus meningkatkan penyaluran kredit kepada dunia usaha dan rumah tangga. Sehingga meningkatkan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Kredit yang lebih luas dapat mendukung aktivitas bisnis dan investasi, yang pada akhirnya mempercepat pertumbuhan ekonomi. - Aktiva Luar Negeri Bersih
Peningkatan aktiva luar negeri bersih, yang mencerminkan surplus dalam transaksi berjalan dan cadangan devisa yang lebih tinggi, turut berkontribusi terhadap pertumbuhan likuiditas dalam negeri. - Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Keputusan BI untuk menjaga suku bunga stabil dalam beberapa bulan terakhir juga memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan uang beredar. Dengan tingkat suku bunga yang relatif terkendali, masyarakat dan dunia usaha lebih terdorong untuk melakukan investasi dan konsumsi.
Dampak terhadap Perekonomian Nasional
Peningkatan jumlah uang beredar memiliki dampak yang beragam terhadap berbagai aspek ekonomi:
- Meningkatkan Konsumsi Masyarakat
Dengan lebih banyak uang yang beredar di masyarakat, daya beli cenderung meningkat, yang dapat mendukung pertumbuhan sektor ritel dan jasa. - Mendukung Aktivitas Investasi
Likuiditas yang cukup di perbankan memungkinkan dunia usaha untuk mendapatkan pinjaman dengan lebih mudah, sehingga mendukung ekspansi bisnis dan investasi. - Potensi Tekanan Inflasi
Jika peningkatan jumlah uang beredar tidak diimbangi dengan pertumbuhan produksi barang dan jasa, ada potensi tekanan inflasi. Oleh karena itu, Bank Indonesia perlu menjaga keseimbangan agar pertumbuhan uang beredar tetap terkendali.
“Baca Juga: Tiongkok Pertahankan Suku Bunga: Strategi Menjaga Stabilitas Yuan dan Ekonomi”
Prospek Likuiditas ke Depan
Ke depan, perkembangan peredaran uang di Indonesia akan sangat bergantung pada kebijakan moneter BI, kondisi perekonomian global, serta respons sektor keuangan dan dunia usaha terhadap berbagai dinamika yang terjadi. Dengan tetap menjaga keseimbangan antara likuiditas dan stabilitas ekonomi, diharapkan pertumbuhan ekonomi nasional dapat terus berlanjut secara berkelanjutan.